Iddah Wanita Yang Suaminya Hilang

29Sep07

Iftitah

Perkawinan merupakan sunnatullah bagi makhluk dan ciptaannya dan berlaku umum baik untuk alam manusia, alam hewan maupun alam tumbuhan.[1] Setiap makhluk diciptakan berpasang-pasangan merupakan sebuah tatanan yang dipilih Allah untuk menjaga kelestarian melalui proses perkembangbiakan, menjaga kesinambungan dan kontinuitas kehidupan, serta kalau dalam konteks umat Islam lebih spesifik adalah untuk memperbanyak generasi umat Rasulullah. Seperti yang diungkapkan dalam haditsnya:تزوجوا الودود و الولود فإنى مكاثر بكم الأنبياء يوم القيامة

Allah tidak menghendaki untuk menjadikan manusia seperti makhluk lainnya karena ia dibekali akal. Konsekuensinya adalah bahwa perkawinan itu tidak sekedar dilaksanakan hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis an sich dan hubungan antar pasangan yang temporal. Akan tetapi sebuah lembaga perkawinan membutuhkan aturan pelaksanaan untuk menjaga kehormatan dan kemuliaan manusia, menciptakan ikatan antara pria dan wanita itu bersifat lahiri dan batini, kekal dan selalu berada dalam ridho Allah.

Tidak jarang kita temukan dalam sebuah bahtera keluarga suami membenci isterinya dan begitu juga sebaliknya karena kehidupan perkawinan tidak dibangun di atas pondasi rumah tangga yang dipenuhi dengan rasa kasih sayang, tafahum, komunikasi yang baik, serta suami dan isteri yang melaksanakan hak dan kewajibannya masing-masing. Hak tersebut bisa berupa hak secara bersama-sama, misalnya hak untuk sama-sama mendapatkan ‘kesenangan’, hak isteri terhadap suami, seperti hak kebendaan (mahar dan nafkah) dan hak non kebendaan (keadilan), hak suami terhadap isteri, misalnya suami harus ditaati oleh isteri dan sebagainya. Jika beberapa unsur di atas belum terpenuhi maka kehidupan keluarga tidak akan berjalan dengan baik.[2]

Ternyata perjalanan perkawinan tidak selamanya dapat berlangsung dengan lancar, terdapat gangguan dan kesulitan. Gangguan dan kesulitan yang terjadi dalam keluarga cukup beragam, baik dalam bidang ekonomi, sosial, pendidikan, maupun ideologi. Suatu contoh, ada seorang suami yang  bernama Abdul dan isteri beranama Siti yang telah melangsungkan perkawinan pada tahun 1996. Abdul seorang karyawan pada sebuah perusahaan dan Siti hanya seorang ibu rumah tangga. Kehidupan keluarga mereka hanya tergantung pada penghasilan si suami karena si isteri hanya mengurus anak di rumah. Awalnya kehidupan mereka berjalan dengan baik dan harmonis.

Badai krisis melanda Indonesia pada tahun 1998 menyebabkan nilai tukar rupiah terhadap dolar menurun dan beberapa pabrik ada yang gulung tikar, ada yang harus menekan biaya dan angka produksi dan mengeluarkan beberapa karyawan. Abdul adalah salah satu dari sekian banyak karyawan yang dikeluarkan akibat krisis moneter tersebut. Peristiwa ini menyebabkan kehidupan keluarga Abdul mulai ‘amburadul’ karena sumber pengasilan keluarga satu-satunya sudah tidak dapat diharapkan lagi. Akhirnya, Abdul mencari pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia memutuskan untuk mengais rizki di negeri tetangga, tepatnya Singapura. Keputusan itu dilakukan setelah mendapat pertimbangan dari keluarganya, dengan konsekuensi ia akan kembali setelah ia berhasil dan akan mengirimkan nafkah bulanan untuk isterinya. Walhasil, setelah berjalan sekian tahun ternyata nafkah itu tidak pernah didapatkan oleh isterinya dan Abdul sudah hampir empat tahun tidak memberikan kabar tentang keadaannya  sekarang dan tentang kapan ia akan kembali ke tanah air.

Siti selalu bertanya-tanya tentang keberadaan suaminya sekarang, apakah ia masih tetap bekerja di Singapura, atau bahkan ia sudah meninggal dunia. Ia sudah berulang kali mencoba bertanya untuk mendapatkan informasi tentang keberadaan suaminya sekarang tetapi sayangnya usaha yang dilakukan sia-sia. Di satu sisi, Siti tidak mungkin terus membiarkan dirinya hidup sendiri, artinya ia membutuhkan seorang pelindung dalam keluarga dan memikirkan nasib anaknya di masa depan sehingga ia hareus menikah dengan laki-laki lain. Pada sisi yang lain, dikhawatirkan ternyata pada suatu saat Abdul kembali ke keluarganya.

Peristiwa ini cukup menarik jika ditinjau dari kajian fiqh Islam, yaitu tentang bagaimana status (iddah) wanita yang suaminya menghilang dan keberadaan serta keadaanya tidak diketauhi. Oleh karena itu, tulisan singkat dan sederhana ini bermaksud untuk mengupas persoalan di atas dari perspektif fiqh Islam. Pembahasan dimulai dengan  menjelaskan tentang istilah iddah isteri yang ditinggal (hilang) suaminya menurut fuqaha’, bentuk-bentuknya, bebrapa pendapat para fuqaha’ dan diakhiri dengan kesimpulan. Tentu saja, karena keterbatasan dan keawaman penulis maka sesungguhnya tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan yang membutuhkan kritik dan masukan konstruktif. 

Selanjutnya…



No Responses Yet to “Iddah Wanita Yang Suaminya Hilang”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: