Inul dan Sekitarnya

30Sep07

Catatan Awal

Matahari baru saja tenggelam. Warung Nasi Lesehan Sumber Urip yang terletak di depan Stasiun Kereta Api Tugu, Yogyakarta, penuh sesak. Delapan hingga sebelas orang duduk berimpitan. Suasananya riuh. Sesekali terdengar celetukan yang diiringi tawa panjang. Meski ruangan 3×4 meter itu terasa pengap, karena dipenuhi asap rokok, tak seorang pun di antara mereka yang beranjak. Mata para penghuni warteg ini tetap tak lepas dari kotak kaca berukuran 14 inchi. Mereka menunggu tayangan perjalanan karir Inul Daratista, yang disiarkan secara khusus oleh dua televisi swasta, Sabtu pekan silam.
Sejak kontroversial penampilan Inul mengemuka, penampilan perempuan berusia 23 tahun ini memang dinanti-nanti. Masyarakat seperti menemukan pahlawan baru, tontonan baru, dan hiburan baru–yang tak melulu cengeng seperti tayangan sinetron. Inul tampil segar. Fresh dan renyah. Goyang pantatnya yang dikenal dengan istilah ngebor mampu membuat masyarakat lupa dengan langkanya gula pasir, konflik Aceh, maupun sikut-sikutan politikus yang sudah tak sabar menghadapi Pemilu 2004. Tak heran bila penampilan Ainur Rokhimah–nama Inul sebenarnya–selalu ditunggu-tunggu.

Fenomena ini memang mengundang respon dari berbagai kalangan. Sejumlah tokoh masyarakat, lembaga-lembaga sosial keagamaan, NGO, praktisi, dan artis pun ikut meramaikan dalam ‘panggung polemik’ itu. Ada yang pro dan ada yang kontra. Dan sampai saat ini, pro-kontra goyangan Inul pun masih bisa diperdebatkan; apakah itu artistik, erotis, sensual, atau cabul? Belum ada jawaban yang pasti. Semua masih harus dilihat dari sudut mana kita memandang. Seseorang wanita berpakaian selam pun bisa terlihat seksi, apabila kita ingin melihatnya secara sensual. Bukankah pakaian adat pengantin daerah tertentu juga mengumbar birahi karena selalu terbuka sampai batas dada? Kata budayawan Emha Ainun Nadjib, dalam kolomnya di Kompas, untung cuma bagian belakang Inul yang bergoyang, bagaimana kalau bagian depan Inul juga ngebor? Alamak, sulit membayangkannya.

Dekadensi Moral atau Kebutuhan?

Melalui Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia, Bang Haji mengecam goyang Inul. Satria Bergitar ini menganggap penampilan perempuan kelahiran Pasuruan, 21 Januari 1979, telah menyeburkan musik dangdut ke dalam comberan. Soalnya, goyangan Inul dianggap mengumbar erotisme belaka. “Goyangan Inul itu bukan naluri artistik tapi naluri birahi,” kata dia. Buntutnya, Rhoma mengharamkan Inul membawa lagu-lagunya dan mendesak SCTV menghentikan tayangan Duet Maut.

Permintaan ini kontan mengejutkan masyarakat luas. Rhoma dinilai tak layak mengharamkan siapa pun untuk membawa lagu-lagunya. Pemimpin Grup Soneta ini juga tak berhak melarang SCTV untuk menghentikan tayangannya. Itulah sebabnya, publik ramai-ramai melawan. Ada yang datang secara perorangan, ada juga yang memprotes secara berkelompok. Singkatnya, banyak orang yang tadinya tak peduli dengan dangdut, yang tak suka menonton Inul, bahkan tak kenal Inul, tiba-tiba berjejer di belakang Inul. Mantan Presiden Abdurrahman Wahid, anggota DPR Yasril Ananta Baharuddin, Ketua PWI Tarman Azzam, aktor Roy Marten, sampai ibu-ibu pejuang hak asasi manusia berlomba membela Inul. Bahkan, suami Presiden Megawati Sukarnoputri, Taufik Kiemas, juga mendukung Inul. “Goyang Inul masih dalam batas kewajaran. Jadi tak perlu dipermasalahkan,” ujar Taufik, singkat.

Protes dari sederet orang terkenal ini tetap tak menyurutkan langkah Rhoma. Dia tetap menganggap goyang Inul melampaui batas. Erotis dan mengumbar syahwat. Moral bangsa menjadi kedodoran karena melihat geal-geol pantat Inul. Bahkan, semenjak dinyanyikan Inul, musik dangdut kini dianggap sebagai musik pelacur. “Saya akan maju terus. Jutaan umat siap jihad di belakang saya,” kata Rhoma. Dia menilai ada sekelompok orang yang bergerak di belakang Inul secara sistematis untuk mengorbankan moral bangsa. Gawat.

Meruntuhkan moral bangsa? Perlu waktu lama dan penelitian mendalam untuk menjawab pertanyaan ini. Sebab, Erotis atau tidak, yang pasti, Inul kini sangat shock. Apalagi, semenjak dia dipanggil Bung Rhoma ke Markas Soneta. Saat itu Inul disuruh bertobat. “Saya takut sekali ketika Pak Haji memarahiku tanpa henti selama 45 menit. Takut bukan main. Tangan kanannya memegang tasbih, dan tangan kirinya menuding-nuding ke mukaku. Amarah beliau saat itu luar biasa sekali, meledak-ledak. Saya tidak tahan, lantas bersimpuh di kaki beliau dan memohon ampun. Minta maaf, bila saya berbuat kesalahan kepada beliau, kepada masyarakat, dan kepada dunia dangdut karena mungkin Inul datang ke Jakarta tanpa kulo nuwun kepada artis yang senior,” ujar Inul. Putri pertama dari pasangan Abdullah Aman dan Rufia ini benar-benar instropeksi diri.

‘Keterkejutan Ekonomi’ Maha Dahsyat

Inul memang pendatang baru di Jakarta. Di Ibu Kota, karirnya melesat melebihi meteor. Padahal, beberapa waktu silam, dia masih tinggal di gang sempit di kawasan Gempol, Japanan, Pasuruan, Jawa Timur. Rumahnya kecil, berpagar batu berwarna cokelat setinggi setengah meter. Inul adalah anak dari keluarga sederhana. Ayahnya hanya seorang tukang jahit. Sedangkan ibunya penjual kacang mete goreng. Cuma bakat nyanyi Inul memang sudah terlihat sejak kecil. Dia selalu menenteng radio dan bernyanyi di mana saja. Bahkan, Inul selalu menenteng radio ke mana pun ia pergi, termasuk ke kamar mandi.

“Ritual” ini rupanya membantu Inul cepat menghafal lagu. Di kelas III sekolah menengah pertama, dia sudah bergabung dengan sebuah grup musik. Inul kerap keluar-masuk kampung untuk manggung di acara perkawinan, hajatan, sunatan, atau Agustusan. Honor yang diterima masih Rp 10 ribu-Rp 15 ribu. Murah. Seiring perjalanan waktu, perlahan tapi pasti, karir Inul terus menanjak. Honornya juga bergerak naik, menjadi Rp 100 ribu-Rp 300 ribu sekali pentas. Tapi, saat itu dia belum bergoyang ala ngebor. Lagu yang dibawakannya pun masih beragam, dari dangdut, pop, sampai rock. Baru pada 1998-1999 dia menekuni goyang ngebor.

Kontroversi goyang ngebor Inul Daratista yang hingga sekarang belum reda diperkirakan dilatarbelakangi persaingan pemodal besar yang ingin memperebutkan Inul sebagai tambang pemasukan uang, kata budayawan Darmanto Jatman.
Trade mark ngebor inilah yang mengantar Inul ke puncak popularitas. Honor yang dia terima bukan lagi ratusan ribu rupiah sekali manggung, tapi sudah mencapai puluhan juta rupiah. Jadwal manggungnya juga padat. Hampir setiap hari Inul menemui penggemarnya, di panggung, radio, dan televisi. Pertunjukannya selalu disemuti penggemarnya. Perseteruannya dengan Rhoma juga menjadikan Inul sebagai topik diskusi di radio secara interaktif, menghias editorial koran-koran, dan menjadi bahan tulisan para kolumnis. Hebatnya lagi, Inul menjadi satu-satunya artis dangdut yang diberitakan majalah Time. Dahsyat. Singkatnya, kehadiran Inul membawa rezeki buat siapa saja.

Inul memang fenomenal. Rencananya, dalam waktu dekat ini, dia akan manggung di luar negeri. Inul akan hadir di Kuala Lumpur (Malaysia), Rotterdam, Amsterdam (Belanda), Los Angeles, New York (Amerika Serikat), Wina (Austria), Brunei Darussalam, Suriname, dan Jepang. “Kalau di dalam negeri saya tak diterima, lebih baik ke luar negeri. Tapi, manggung di kampung-kampung juga tak akan kaget,” ujar Inul, lirih. Tinggal di kampung memang sudah menjadi cita-cita Inul. Dia bilang, setelah berhenti bernyanyi, ia akan pulang kampung, mengasuh anak, dan menjaga toko. Dan, satu lagi, Inul tak mau mencari musuh. Dia lelah.

Hukum Tak Berdaya

Dari fenomena ini nampaknya, kita baru sadar ternyata konstitusi kita tidak mempunyai daya dan otoritas pada wilayah ini, oleh karena hukum yang kita punya cenderung reaktif  . Padahal fenomena Inul itu bukan semata persoalan pribadi, namun terkait dengan norma sosial (agama), hukum, kepatutan dan nilai-nilai lain yang tumbuh di masyarakat dan menjadi persoalan publik yang sudah diakui dan disepakati. Ini menjadi tugas lembaga legislatif kita yang harus memproduk undang-undang atau hukum yang mampu mewngakomodasi kepentingan semua pihak.

Tetapi yang jelas dalam KUHP tepatnya bab VI tentang Pelanggaran Kesusilaan pasal 532 disebutkan bahwa barangsiapa di muka umum menyanyikan lagu-lagu yang melanggar kesusilaan diancam dengan kurungan paling lama tiga hari atau denda paling banyak lima belas rupiah.

Kalau memang dikehendaki dimasukkan dalam otoritas hukum, Mahkamah Agung sebagai lembaga tertinggi dalam hal ini, harus memberikan ketentuan hukum yang jelas terhadap fenomena ini. Setidaknya dengan berbekal ketentuan hukum di atas, mampukah MA menyelesaikan persoalan tersebut secara hukum? Mengingat masalah ini bukan saaja berada pada tataran privat namun sudah masuk pada ‘ranah publik’.

Catatan Akhir

Persoalan sosial memang persoalan yang cukup rumit untuk dipecahkan. Pendekatan dan pola pembacaan yang komprehensif harus dilakukan. Fenomena ini bukan saja menjadi urusan agama secara normatif, namun yang lain (seni, hukum, moral, budaya) mempunyai hak juga untuk berpartisipasi dalam panggung dunia ini.



No Responses Yet to “Inul dan Sekitarnya”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: