Hukum = Keadilan, Permaafan = Kemanusiaan

13Jan08

Hari-hari ini media masa Indonesia ramai memberitakan kondisi kesehatan mbah Soeharto, mantan Presiden RI ke-2. Penguasa dari tahun 1996-1998 itu sedang dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta. Dari hari ke hari, kondisi kesehatannya semakin buruk. Pada hari ini pun (13/01) ketua tim dokter kepresidenan menegaskan peluang Soeharto untuk hidup sangat kecil, fifty-fifty lah. Banyak kelompok masyarakat di beberapa daerah menggelar doa bersama untuk kesembuhan atau kebaikan (jika tidak bisa sembuh) nya. Karena kondisi Soeharto yang semakin kritis itu, kunjungan SBY ke Kuala Lumpur pun harus dipersingkat.

Pro kontra dan silang pendapat muncul menyoal status dan penyelesaian hukum atas kasus Soeharto. Karena kondisi Soeharto yang tidak mungkin baik, surat SP3 sudah dikeluarkan oleh Kejagung beberapa tahun yang lalu sehingga pengadilan pidana sudah selesai dan tidak mungkin dilanjutkan. Kemudian, Kejagung membuat tuntutan perdata atas penyelewengan uang negara untuk yayasan-yayasan yang dipimpin Soeharto. Tetapi, lagi-lagi karena alasan kesehatan, proses persidangannya pun belum sempat digelar. 

Kini, harapan Soeharto untuk hidup sangat kecil. Sebagian masyarakat menginginkan agar Soeharto dimaafkan. Hal ini mengingat jasanya yang cukup besar untuk pembangunan Indonesia. Sebagian yang lain tetap bersikukuh hukum harus selalu ditegakkan, karena itulah amanat reformasi 1998 yang sudah di-TAP MPR kan. Jaksa Agung datang ke RSPP dini hari untuk menawarkan jalan win-win solution dengan mengambil jalan perkara diselesaikan di luar pengadilan. SBY tidak mau mengakuinya sebagai sikap pemerintah.

Cukup rumit memang menempatkan posisi hukum, keadilan, dan kemanusiaan. Mengadili dan menghukum orang yang sedang sakit jelas tidak dibenarkan karena melanggar unsur hak-hak manusia. Tetapi jika hukum tidak ditegakkan, keadilan tidak mungkin tercapai. Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi kemanusiaan, pemberian maaf terhadap orang yang bersalah bukanlah hal yang berat. Tetapi, sekali lagi maaf tidaklah cukup. Permaafaan berbeda sama sekali dari keadilan.

 Ya, aku juga bingung. Memilih hukum demi rasa keadilan masyarakat? Atau, memberi maaf saja karena pertimbangan kemanusiaan? Jelas, sikap saya, keadilan masyarakat termasuk di dalamnya kemanusiaan dan kebaikan secara umum harus dimenangkan daripada kepentingan pribadi atau keluarga tertentu. Teknisnya? Tanya aja sama Kejagung, he…he….

Jika akhirnya Soeharto harus menghadap ke sang Khalik, hanya ini yang bisa saya berikan: Allahummaghfir lahu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu. Allhamulla dzunubahu wa khati’aatihi ma sabaq….

Salam,



No Responses Yet to “Hukum = Keadilan, Permaafan = Kemanusiaan”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: