Islam Indonesia = Smiling Islam

13Jan08

nasr_1.jpg
Sumber: Koleksi pribadi

Jumat (11/01), saya dan beberapa teman Islamic Studies, Universitas Leiden menghadiri acara diskusi terbatas di sebuah lembaga non-pemerintah, Centre of Initiative of Changes, Den Haag, Amaliastraat 10. Agenda diskusi yang digelar dari jam 8 malam tersebut dikhususkan untuk membincangkan dan merefleksi peristiwa pencekalan Abu Zaid untuk memberikan ceramah pada sebuah acara konferensi internasional di Malang November tahun lalu. Prof. Nasr Abu Zayd, sebagai pembicara tunggal, menyajikan presentasi cukup menarik dengan menampilkan gambar-gambar (dalam powerpoint) yang berisi kesan beberapa kali kunjungannya ke Indonesia sejak 2004.

Ia memberi judul orasinya REVISITING INDONESIA. Judul itu tentu mengandung makna yang tidak sederhana. Dalam beberapa perjumpaan saya dengan Nasr,  beliau selalu menegaskan bahwa Indonesian Islam dalam kesannya adalah Smiling Islam. Mengapa demikian? Itulah, kendati peristiwa pencekalan tersebut sangat memukulnya, dia dengan bangga menegaskan bahwa iklim Indonesia masih sangat kondusif untuk membangun dialog dan komunikasi yang sehat dan produktif. Di Timur Tengah, terutama Mesir tempat beliau dibesarkan, tidak terdapat ruang untuk melakukan pembelaan secara intelektual.  Kejadian itu tidak membuat Abu Zaid kapok untuk berkunjung ke Indonesia. Mungkin inilah makna dari Revisiting itu.

Kesan Abu Zayd tentang Islam Indonesia yang smiling itu bukanlah mengada-ada. Dalam kunjungannya ke pesantren Sukorejo, Situbondo, di satu sisi dia mendapat kesan kurang baik dari perlakukan para santri yang mencium tangannya dan berusaha menyentuhnya untuk mendapatkan barakah. Di sisi lain, dia terkagum karena di dalam komunitas yang masih tradisional seperti itu, ruang publik masih terbuka. Saat itu, para santri menggelar demonstrasi untuk menuntut hak-haknya. Dua kasus itu, bagi Abu Zaid, menggambarkan Islam Indonesia yang tradisional (kolot) tetapi masih memberi kemungkinan seluasnya bagi kebebasan berpikir dan berpendapat.

Memang peristiwa pencekalan itu telah menodai wajah Islam Indonesia yang sejuk dan ramah. Tetapi, bagi Abu Zaid, tragedi itu lebih disebabkan karena dorongan ekspresi sebagian tokoh Islam akibat kurang mengerti secara utuh tentang pemikirannya. Persoalan ignorance (ketidaktahuan) inilah yang melanda di dunia Islam sekarang. Pengembangan pendidikan yang tidak hanya teaching tetapi studying tentu menjadi satu-satunya jawaban.

Betapa tinggi harapannya dengan masa depan Islam Indonesia, Abu Zaid menegaskan: I am half-Indonesian, half-Egyptian. Jika ada kesempatan, sisa hidupnya pun ingin dihabiskan di Jogjakarta karena atmosfer kebebasan intelektualnya. 



No Responses Yet to “Islam Indonesia = Smiling Islam”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: