On Wilders, Fitna, and Multi-culturalism

03Apr08

Ada artikel yang ditulis Endang Suryadinata di SKH Jawa Pos. Perspektif yang dia gunakan untuk melihat kasus Wilders, menurutku at least, sangat reliable dan historical. Berusaha menjelaskan duduk persoalan sebenarnya, tidak melakukan tuduhan atas nama norma-norma tertentu. Saya cenderung melihat fenomena Wilders dan filmya Fitna itu lebih cocok ditempatkan pada wacana kenegaraan bukan keagamaan. Imigran yang memiliki ideologi (agama) yang sangat kuat di negara kecil secara demografis (seperti Belanda) memang terkadang menjadi problem (multikulturalisme). Di negara-negara besar, seperti USA, Jerman, dan Perancis, problem integrasi kultural ini tidak telalu tampak. Kegagalan integrasi kultural dan sosial ini sesungguhnya kontra prestasi, harga yang harus dibayar, oleh negara-negara industrialis.

Ekstrimnya, ada 2 pilihan: pembangunan negara dilakukan dengan menutup pintu serapat-rapatnya dengan mengoptimalkan employee dari dalam negeri sendiri (tentu untuk Belanda, pilihan ini nggak mungkin) atau membuka pintu selebar-lebarnya untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi dengan (resiko) mengeluarkan dana yang cukup untuk program integrasi dan multikulturalisme. Saya kira, dalam konteks globalisasi ini, pilihan terakhir yang paling viable. Skema penyelamatan yang perlu dikembangkan adalah semangat mutualisme dan menyediakan ruang dialog selonggar-longgarnya. Titik.

Jawa Pos
Kamis, 03 Apr 2008,
Jangan Termakan Propaganda Wilders
Oleh Endang Suryadinata
Gaung film Fitna garapan Geert Wilders, anggota parlemen ekstrem kanan Belanda, akhirnya sampai juga di tanah air. Kedubes Belanda di Jakarta dilempar telur. Bahkan, ada yang usul agar produk-produk Belanda diboikot. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan pencekalan terhadap sosok Wilders (Jawa Pos, 1 April 2008).
———

Seruan Tokoh Lintas Agama

Sebelumnya, tokoh lintas agama Indonesia, baik Islam maupun Kristen, menolak rencana pemutaran film itu (Jawa Pos, 14 Maret 2008). Yang dilakukan tokoh lintas agama kita tersebut juga terjadi di Belanda ketika 58 tokoh masyarakat Belanda menyampaikan maklumat “Benoemen en Bouwen” (Menyebut dan Membangun) di harian Trouw (edisi awal 2008).
Para tokoh lintas agama Belanda, khususnya Kristen dan Yahudi, menyesalkan rencana Wilders yang hendak merilis film anti-Islam. Perdana Menteri Belanda Jan Peter Balkenende juga menyurati Ketua Umum PB NU KH Hasyim Muzadi bahwa Wilder tidak mewakili Belanda dan pemerintah Belanda tidak bisa melarang pemutaran film Fitna.Namun, seruan banyak pihak agar rencana pemutaran film tersebut dibatalkan tidak digubris Wilders. Pada Kamis malam waktu Belanda (27 Maret 2008), film itu dirilis di internet.

Memang, menurut sebagian besar publik Belanda, tidak ada yang baru dalam film tersebut. Kalau kita rajin membaca koran atau memelototi berita di TV, kita pasti sudah melihat potongan-potongan yang tersaji dalam film itu.

Fouad Sidali dari Ikatan Kerja Sama Warga Maroko di Belanda berkomentar, “Film itu tidak mengejutkan seperti diduga sebelumnya karena berisi fragmen-fragmen mengerikan yang sudah masuk dalam buku sejarah. Dan yang bertanggung jawab adalah penjahat, kaum kriminal, bukannya Islam.”

Film Fitna dimulai dengan gambar kitab suci Alquran dan karikatur Denmark yang menghina Nabi Muhammad SAW, disusul gambar serangan berdarah terhadap New York, London, dan Madrid. Muncul pula headline berbagai koran tentang pembunuhan sineas Belanda Theo van Gogh dan ancaman terhadap Salman Rushdie, penulis buku Ayat-Ayat Setan. Tiap akhir fragmen diselingi ayat-ayat Alquran.

Ahli Arab dan guru besar Kajian Islam Fred Leemhuis khawatir atas reaksi dunia Islam karena Wilders mencomot ayat-ayat Quran secara sepotong-sepotong, lepas dari konteksnya, dengan tujuan menghina Islam.

Psikolog media massa Jaap van Ginneken mengapresiasi Wilders yang pandai menggunakan hukum propaganda dengan baik. Artinya, meski apa yang tertuang dalam film itu sebenarnya pernah muncul di koran atau televisi, besarnya liputan media membuat tujuan Wilders untuk menghina Islam tercapai (Baca sosoknya di Jawa Pos, 20 Maret 2008). Apalagi dengan memilih waktu penayangan pada Kamis malam membuat film Fitna bisa jadi buah bibir.

Hanya Mengekor

Dalam konstelasi perpolitikan Belanda, Wilders sebenarnya tidak banyak didukung. Namun, dengan film Fitna, namanya menjadi melambung karena mengundang banyak pemimpin Uni Eropa, 26 Dubes negara Islam, bahkan Sekjen PBB Ban Ki Moon untuk berkomentar.

Agenda antiimigrasi Wilders memang sempat menarik perhatian. Namun, ketika secara demonstratif Wilders menunjukkan sikap anti-Islam, dukungan kepada dia pun melemah. Memang, ideologi Volkspartij voor Vrijheid en Democratie (Partai Rakyat untuk Kebebasan dan Demokrasi/VVD), tempat bernaung Wilders, punya program antiimigran.

Dan dalam hal antiimigran itu, Wilders sebenarnya hanya mengekor tokoh-tokoh lain. Kita tentu masih ingat Pim Fortuyn, politikus sayap kanan yang antiimigran dan kemudian ditembak mati usai wawancara di sebuah radio pada 6 Mei 2002.

Kita juga ingat sineas anti-Islam Theo van Gogh yang dibunuh pada 2 November 2004. Kita ingat pula sejarawan sekaligus penulis Jolande Withuis yang pernah menyatakan bahwa pemerintah Kerajaan Belanda telah melakukan kekeliruan besar melalui kebijakan pintu terbuka untuk imigran muslim (Buruma, 2006).

Jadi, secara ideologis, Wilders hanya mengekor. Apalagi, pemikiran yang bernuansa Islamofobia sebenarnya bisa dirunut jejaknya sejak abad pertengahan.

Suara antiimigran yang kebanyakan datang dari Afrika Utara (Maroko) dan Turki memang kian kuat di Belanda sejak sepuluh tahun terakhir. Karena mayoritas imigran beragama Islam, agama itu juga menjadi sasaran penghinaan kaum sayap kanan ekstrem yang mencemaskan identitas nasional Belanda.

Padahal, ketika datang pada 1970-an, kaum imigran disambut dengan antusias. Setelah ikut berjasa memakmurkan Belanda, kaum imigran hendak ditendang. Dengan demikian, Wilders dan kaum antiimigran sebenarnya dihinggapi “superiority complex syndrome” warisan nenek moyang mereka yang selama 350 tahun menjajah Hindia-Belanda.

Tak Semua seperti Wilders

Namun, jangan lupa, tidak semua warga Belanda seperti Wilders. Sebagian besar sudah berwawasan multikultural. Joost Lagendijk dari Groen Links, misalnya, justru melihat kaum imigran muslim yang berjumlah 900.000 jiwa sebagai aset yang perlu diberi saluran aspirasi di parlemen Belanda.
Para akademisi atau pemikir muslim juga banyak mengajar di sekolah, universitas, serta lembaga riset. Bahkan, komunitas Yahudi di Belanda mengutuk film Wilders untuk menunjukkan solidaritas kepada umat Islam. 

Jika cara kekerasan dipakai untuk merespons Wilders, umat Islam sudah pasti terperosok dalam jebakannya, sehingga semakin mengaitkan Islam dengan kekerasan. Karena itu, imbauan Ketua PB NU Hasyim Muzadi dan tokoh agama lain agar warga kita tidak termakan propaganda Wilders dan tidak melakukan kekerasan sungguh sebuah seruan bijak yang perlu direspons.

Endang Suryadinata, peminat sejarah Indonesia-Belanda, alumnus Erasmus Universiteit Rotterdam



No Responses Yet to “On Wilders, Fitna, and Multi-culturalism”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: