Fatwa MUI tentang Pornografi Pornoaksi

04May10
KEPUTUSAN FATWA KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA
NOMOR 287 TAHUN 2001
Tentang PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia setelah

Menimbang :

1. bahwa pornografi dan pornoaksi serta hal-hal lain yang sejenis akhir-akhir ini semakin merebak dengan bebas dan tersiar secara luas di tengah-tengah masyarakat, baik melalui media cetak dan elektronik, media komunikasi moderen, maupun dalam bentuk perbuatan nyata;
2. bahwa dalarn kenyataan, pornografi dan pornoaksi telah menimbulkan berbagai dampak negatif bagi umat Islam khususnya dan bangsa Indonesia umumnya, terutama generasi muida, baik terhadap perilaku, moral (akhlak), maupun terhadap sendi-sendi serta tatanan keluarga dan masyarakat beradab, seperti pergaulan bebas, perselingkuhan, kehamilan dan kelahiran anak di luar nikah, aborsi, penyakit kelamin, kekerasan seksual, perilaku seksual menyimpang, dan sebagainya;
3. bahwa membiarkan pornografi dan pornoaksi serta hal-hal lain yang sejenis terus berkembang dapat berakibat pada kehancuran bangsa; dan karena itu, perlu segera dilakukan upaya penghentiannya melalui tindakan konkrit, antara lain, dengan penetapan peraturan perundang-undangan yang memuat ancaman hukuman yang tegas dan berat;
4. bahwa sebagian besar umat Islam dan bangsa Indonesia, baik masyarakat umum maupun para penyelenggara negara, dianggap belum memberikan perhatian maksimal dan belum mengetahui secara tepat pandangan ajaran Islam terhadap pornografi dan pornoaksi serta hal-hal terkait lainnya;
5. bahwa berdasarkan pertimbangan di atas, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia memandang perlu menetapkan fatwa tentang pornografi dan pornoaksi.

Mengingat :

1. Firman Allah SWT, :
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” (QS. al-lsra’ [ 17]: 32).
2. Firman Allah SWT.:
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman : , ‘Heridaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya ; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat’, Katakanlah kepada wanita yang beriman : ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka atau putera-putera mereka atau-putra putra suami mereka atau saudara laki-laki mereka, atau putera putera saudara laki-laki mereka atau wanita-wanita Islam atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunya keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS.Al Nur (24):30-31)
3. Firman Allah SWT :
. “Hai Nabi! Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mu’min. ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabmu ke seluruh tubuh mereka. Yang demikiun itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. al-Ahzab [33]: 59).
4. Firman Allah SWT :
“…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepadu Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”(QS. AI-Ma’idah [5]: 2).
5. Hadits-hadits tentang larangan pakaian tembus.pandang, erotis, sensual, dan sejenisnya, dan berprilaku.. tertentu, serta hadis tentang larangan berduaan anta: laki-laki dengan perempuan bukan mahram, antara lain:
Dari Ibnu Usamah bin Zaid bahwa ayahnya, Usamah berkata :
Rasulullah memberikan kepada qubthiyah katsifah (jenis pakaiarr tembus pandang berwarna putih buatan Mesir) yang dihadiahkan oleh Dihyah al-Kalby. Lalua aku berikan kepada isteriku. Maka, Rasul bertanya kepadaku :’Mengapa engkau tidak memakai qubthiyah? Saya menjawab: ‘wahai Rasul’ Saya berikan kepada istriku’ Rasul bersabda ke padaku:’Suruh istrimu agar mengenakan rangkapan dibawahnya, Saya khawatir pakaian tersebut dapat memperlihatkan bentuk tubuhnya,” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya, kitab Musnad al-Anshar, bab Hadits Usamah bin Zaid, nomor 20787.
Dari Alqamah bin Abi Alqamah, dari ibunya, bahwa ia berkata :’Hafshah binti Abdurrahman masuk ke dalam rumah A’isyah, isteri Nabi, dan Hafshah mengenakan tutup kepala vang tipis, lalu A’isvah rneriyobeknya dan mengenakan padanya tutup kepala yang tebal’. ” (HR. Malik dalam al-Muwaththa’, kitab Jami, bab Ma Yukrahu li-al-Nisa’ Lubsuhu min al-Tsiyab, nomor 1420).
“Abdullah bin Yazid bercerita kepda kami, Abdullah bin ‘Ayyasy bin ‘Abbas Al-Qitbani bercerita kepada kami; ia berkata : Saya mendengar ayahku berkata : Saya mendengar ‘Isa bin Hilal Al-Shadafi dan Abu Abdurrahman al-Hubuli berkata: Kami mendenganr Abdullah bin Amr berkata : Saya mendengar RAsulullah bersabda : Kelak di akhir umatku(akhir zaman ) akan ada sejumlah laki-laki yang menaiki pelana mirip seperti tokoh; mereka turun (singgah) dipintu-pintu masjid; (akan tetapi) isteri mereka berpakaian (seperti) telanjang; kepala laki-laki dibalut serban besar; mirip punuk unta berleher panjang yang kurus. Kutuklah isteri mereka tersebut, sebab mereka adalah perempuan terkutuk Seandainya dibelakang kamu ada umat lain, tentu isterimu meniru –ister mereka sebagaimana isteri-isteri umat sebelum kamu menirumu. (HR Achmad dalam Musnadnya, Kitab Musnad al-Muktsirin min Asl Shahabah, bab Musnad ‘Abdillah bin Amr bin Al-Ash, nomor 6787)
“Dari Ibnu Abbas r.a. la mendengar Nabi S.A.w. bersabda: ‘Janganlah seorang laki-laki ber—khalwat (bersunyi-sunyi) denigan seorang – perempuan dan jangan (pula) seorang perempuan melakukan perjalanan kecuali disertai mahram(nya).’ Seorang laki-laki berdiri lalu berkata :’Hai Rasulullah.’ Aku tercatat dalam sejumlah ghazwah (perang), padahal isteriku akan melakukan haji.’ Nabi hersabda: ‘Pergilah berhaji menyertai istrimu ‘.”(HR. Bukhari dari Ibn Abbas, kitab al-jihad wa al Sayr, nomor 2784; dan Muslim, kitab al-Hajji. nomor 2391).
“Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah s.a.w. bersabda: Ada dua kelompok penghuni neraka yang belum pernah aku lihat: (1) sekelompok orang yang memegang cambuk seperti ekor sapi; dengan cambuk itu mereka memukuli orang, dan (2) kaum perempuan yang ber-pakaian (seperti) telanjang, berjalan lenggak lenggok,menggoda/memikat,kepala mereka bersanggul besar dibalut laksana punuk unta; meretia ini tidak akan masuk surga dan tidak akan dapat mencium harumnya, padahul keharuman surga dapat tercium dari jarak sekian’. “(HR. Muslim).
6. Hadis Nabi s.a.w. tentang aurat perempuan :
“(Diriwayatkan) dari ‘A’isvah r.a. bahvva Asrna’binti Abu Bakar masuk ke (rumah) Rasulullah s.a.w mengenakan pakaian tipis ; maka Rasulullah s.a.w berpaling dari (arah)-nya dan bersabda, “Hai Asma’! Seorangf perempuan, jika telah sampai usia haid (dewasa), maka tidak boleh dilihat dari tubuhnya kecuali ini dan ini.”Beliau menunjuk muka dan kedua telapak tangannya” (HR. Abu Dawud)
7. Qa’idah ushul al-fiqh sadd al-zari’ah yang menyatakan bahwa semua hal yang dapat menyebabkan terjadinya perbuatan haram adalah haram
8. Qa’idah Fiqh :
“Menghindarkan mafsadat didahulukan atas mendatangkan maslahat.
. “Bahaya harus dihilangkan.”
“Melihat pada (sesuatu) yang haram adalah haram.”
“Segala sesuatu yang lahir (timbul) dari sesuatu yang haram adalah haram.”

Memperhatikan :

1. Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga Ma-1c.., Ulama Indonesia (MUI) periode 2000 – 2005.
2. Keputusan Munas VI MUI Tahun 2000.
3. Pedoman Penetapan Fatwa MUI.
4. Hasil rapat Komisi Fatwa MUI pada Sabtu, 5 Mei 2001.
5. Hasil rapat Komisi Fatwa MUI pada Sabtu, 12 dan 26 N-1 ~ 2001, dan Rabu, 22 Agustus 2001.

Dengan memohon taufiq dan hidayah kepada Allah SWT

MEMUTUSKAN

Menetapkan : FATWA TENTANG PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI

Pertama : Hukum

1. Menggambarkan, secara langsung atau tidak langsung, tingkah laku secara erotis, balk dengan lukisan, gambar, tulisan, suara, reklame, iklan, maupun ucapan, balk melalui media cetak maupun elektronik yang dapat membangkitkan nafsu birahi adalah haram.

2. Membiarkan aurat terbuka dan atau betpakaian ketat atau tembus pandang dengan maksud untuk diambil gambarnya, baik untuk dicetak maupun divisualisasikan adal ah hararn.

3. Melakukan pengambilan gambar sebagaimana dirnaksud angka 2 adalah haram.

4. Melakukan hubungan seksual atau adegan seksual dihadapan orang, melakukan pengambilan gambar hubungan seksual atau adegan seksual, balk terhadap diri sendiri maupun orang lain, dan melihat hubungan seksual atau adegan seksual adalah haram.

5. Memperbanyak, mengedarkan, menjual, membeli dan melihat atau memperlihatkan gambar orang, balk cetak atau visual, yang terbuka auratnya atau berpakaian ketat atau tembus pandang yang dapat membangkitkan nafsu birahi, atau gambar hubungan seksual atau adegan seksual adalah haram.

6. Berbuat intim atau berdua-duaan (khalwat) antara lakilaki dengan perempuan yang bukan mahramnya, dan perbuatan sejenis lainnya yang mendekati dan atau mendorong melakukan hubungan seksual di luar penikahan adalah haram.

7. Memperlihatkan aurat, yakni bagian tubuh antara pusar clan lutut bagi laki-laki clan bagian tubuh selain muka, telapak tangan, dan telapak kaki bagi perempuan, adalah haram, kecuali dalam hal-hal yang dibenarkan secara syar’i.

8. Memakai pakaian tembus pandang atau ketat yang dapat memperlihatkan lekuk tubuh adalah haram.

9. Melakukan suatu perbuatan dan atau suatu ucapan dapat mendorong terjadinya hubungan seksual diluar penikahan ata, perbuatan sebagaimana dimaksud angka 6 adalah haram.

10. Membantu dengan segala bentuknya dan atau membiarkan tanpa pengingkaran pcrbuatan-perbuatan yang diharamkan diatas adalah haram

11. Memperoleh uang, manfaat, dan atau fasilitas perbuatan perbuatan yang diharamkan di atas adalah haram

Ketiga . Rekomendasi

1. Mendesak kepada semua pihak, tcrutama procL~-_ penerbit, dan pimpinan media, baik cetak ulaw elektronika, agar segera menghentikan segala hci- aktifitas yang diharamkan sebagaimana dimaksud fatwa iii.

2. Mendesak kepada seinua penyclenggara negara.

1. menetapkan peraturan pertmdang-undangan ~ .. memperhatikan dengan sungguh-sungguh isi tam.: disertai dengan sanksi yang dapat berfungsi sch::_ zawajir clan mawani’ (membuat pelaku men jacjj . clan orang yang belun1 melakUkan menjadi t..melakukannya);

2. melarang clan menghentikan segala bentuk perbu., haram diinaksud fatwa ini serta tidak memberikan – terhadap penyelengaraan clan penyebarannya-,

3. tidak menjadikan segala bentuk perbuatan ha’ – dimaksud fatwa ini sebagai sumberpendapatan.
3. Mendesak kepada seluruh lapisan masyarakat agar t~_ serta secara aktif clan arif inenghentikan segala b~:v: perbuatan haram dimaksud fatwa ini.

4. Mendesak kepada penegak hukum, sebelum rekomen&si nomor 1. 2 dan 3 dalarn fatwa ini terlaksana. agar menindak dengan tegas semua pelaku pcrbuatan haram dimaksud fatwa ini sesuai dengan ketentuan hukLnn yang berlaku.

Ketiga : Ketentuan Penutup

1. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekcliruan, akan diubah dan disempurnakan sebagairnana mcstinya.

2. Agar semua lapisan masyarakat dan setiap pihak yang terkait mengetahui fatwa ini, mengharap kepada semua pihak untuk menyebarluaskantlya.

Ditetapkan di : Jakarta Padatanggal : 03 Jumadil Akhir 1422 H 22 Agustus 2001 M

KOMISI FATWA
MAJELIS ULAMA INDONESIA

Ketua, Sekretaris,

K.H. MA’RUF AMIN DRS. HASANUDIN, M.Ag.



2 Responses to “Fatwa MUI tentang Pornografi Pornoaksi”

  1. 1 andi

    ane mendukung fatwa mui, biar gak ada lagi hal-hal yang berbau porno di indonesia

  2. makasih responnya mas Andi. Hampir semua bersepakat bahwa memanfaatkan materi porno untuk kepentingan “seksualitas”, apalagi menjadikan anak sebagai korban, selayaknya dilarang. Tetapi diskusinya kemudian adalah apakah seksualitas itu? bagaimana jika itu dipahami sebagai bagian dari berekspresi dan berkesenian? bagaimana dengan tradisi-tradisi lokal, misalnya tentang pakaian adat yang sering mempertunjukkan beberapa bagian tubuh yang menurut umum layak ditutup? disini, norma agama memang tidak cukup untuk memahami pornografi, perlu pendekatan lain; budaya, sosial, dan ekonomi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: